Mawkish
Aku suka berpikir kenapa mataku selalu bermain-main dengan asap hingga
menimbulkan embun di kacamata.
Hati yang sedang tidak
merasakan sesuatu yang spesial ikut terasa sesak.
Buliran itu lagi.. ia suka
sekali bermain di pipiku, sampai mulutku cemburu dan ingin merasakannya
juga."asin!" kata Mulut
Batinku tertawa setelah
itu, tak habis pikir aku bisa bahagia ditengah-tengah kerumitan diriku sendiri.
Bahagia memang sesederhana
itu.
Nah, yang lebih lucu lagi
setelah tertawa justru aku termenung.
Seseorang yang pastinya
setiap dari kita memiliki orang spesial yang selalu hadir pertama dipikiran,
entah itu hal baik ataupun buruk.
Namanya saja yang
terngiang, entah ia berwujud atau tidak.
Ya! hanya nama dia yang
selalu terlintas untuk pertama kalinya.
Aku tersenyum lagi.
"hei bibir bekerja samalah dengan pikiranku, sunggingkan senyum manismu
walau masih terlihat kecut" pinta Otak"Yaa! kecut katamu?
siap-siap kau untuk jatuh cinta dengan senyum manisku ini" jawab Mulut
dengan sedikit rengekan dan pemujian terhadap dirinya sendiri.
Aku bisa apa? memang
terasa seperti orang tidak waras.
Aku hanya bisa tersenyum
setelah melihat semua kenyataan didepan mataku.
Mungkin aku sudah mati
rasa.
Aku tidak tau mana emosiku
ketika sedang marah, rindu atau bahagia.
Yang aku tahu, aku hanya
mencoba menjadi bahagia.
Sudah atau belum, kurasa
tidak penting karena yang terpenting aku bisa melihat orang-orang disekitarku
tersenyum dan itu lebih dari cukup.
14.53
Rabu, 21 Nov 2018
Rabu, 21 Nov 2018
--diruang kerja.
Komentar
Posting Komentar