ANAQI
Telah aku kutip beberapa kalimat yang tertulis disini dari kehidupan Anaqi. Seorang gadis yang terlampau bahagia.
Rumah, dihidup ini mungkin ia tidak punya rumah seperti orang-orang lain miliki.
Ia hanya gadis miskin yang bahagia. Hidup dikontrakan satu petak, yang untuk melaksanakan 5 waktunya kadang harus bergantian supaya menjaga kekhusyukan sesama.
Sebelum sembahyang, memastikan tidak ada suara yang mengganggu terutama suara televisi dan cekikikan bahagia adik bersama anak tetangga.
Semua terasa semakin sulit karena datangnya berbagai asumsi keduniawian yang selalu mengikis keimanannya.
Hampir juga ia melupakan rumah yang selalu menunggu kehadirannya disana.
Rumah yang benar-benar bisa dianggap sebagai rumah, jika ada kata melebihi makna itu maka akan ia berikan.
Kau tau? Tak terasa air mata berjatuhan selagi aku menuliskan ini.
Maaf, aku terharu karena ia yang terlampau bahagia.
Rumah impian, ya bisa disebut seperti itu.
Dikelilingi sanak saudara yang teratur datang menghampiri panggilannya.
Pagi, siang, sore dan malam senandung sholawat dan pujian kepada kekasihnya tak luput dari pendengaran.
Dan melihat cara hidup 'orang kampung', mampu menampar pola hidupnya dikota.
Ia yang terlampau manja hidup dengan orangtua dibandingkan kalian yang sering disebut 'orang kampung', 'jamet' dsb benar-benar membuatnya malah aku juga merasa malu setengah mati.
Gadis-gadis yang sudah mengenal kewajiban sejak dini, memakai baju syar'i dan mengerti 'malu'.
Tak lepas para lelaki yang memang pakaian sehari-harinya adalah sarung dan baju koko.
Sedikitpun tidak ada rasa malu ketika berada disekeliling mereka. Bangga, bahagia, berharap lebih lama berada bersama mereka.
Sejujurnya aku, sebagai diriku sendiri malah merasa malu dengan kondisi dimana aku tinggal. Banyak kata-kata hijrah bertebaran namun nyatanya, biar hanya ada didalam pikiran dan penglihatanku saja.
Sudah selayaknya untuk husnudzan dan insyaAllah harus aku terapkan itu.
-Anaqi, 21/6-
Rumah, dihidup ini mungkin ia tidak punya rumah seperti orang-orang lain miliki.
Ia hanya gadis miskin yang bahagia. Hidup dikontrakan satu petak, yang untuk melaksanakan 5 waktunya kadang harus bergantian supaya menjaga kekhusyukan sesama.
Sebelum sembahyang, memastikan tidak ada suara yang mengganggu terutama suara televisi dan cekikikan bahagia adik bersama anak tetangga.
Semua terasa semakin sulit karena datangnya berbagai asumsi keduniawian yang selalu mengikis keimanannya.
Hampir juga ia melupakan rumah yang selalu menunggu kehadirannya disana.
Rumah yang benar-benar bisa dianggap sebagai rumah, jika ada kata melebihi makna itu maka akan ia berikan.
Kau tau? Tak terasa air mata berjatuhan selagi aku menuliskan ini.
Maaf, aku terharu karena ia yang terlampau bahagia.
Rumah impian, ya bisa disebut seperti itu.
Dikelilingi sanak saudara yang teratur datang menghampiri panggilannya.
Pagi, siang, sore dan malam senandung sholawat dan pujian kepada kekasihnya tak luput dari pendengaran.
Dan melihat cara hidup 'orang kampung', mampu menampar pola hidupnya dikota.
Ia yang terlampau manja hidup dengan orangtua dibandingkan kalian yang sering disebut 'orang kampung', 'jamet' dsb benar-benar membuatnya malah aku juga merasa malu setengah mati.
Gadis-gadis yang sudah mengenal kewajiban sejak dini, memakai baju syar'i dan mengerti 'malu'.
Tak lepas para lelaki yang memang pakaian sehari-harinya adalah sarung dan baju koko.
Sedikitpun tidak ada rasa malu ketika berada disekeliling mereka. Bangga, bahagia, berharap lebih lama berada bersama mereka.
Sejujurnya aku, sebagai diriku sendiri malah merasa malu dengan kondisi dimana aku tinggal. Banyak kata-kata hijrah bertebaran namun nyatanya, biar hanya ada didalam pikiran dan penglihatanku saja.
Sudah selayaknya untuk husnudzan dan insyaAllah harus aku terapkan itu.
-Anaqi, 21/6-
Komentar
Posting Komentar